“RABIATUL ADAWIYAH”
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas:
AKHLAK TASAWUF
Dosen Pembimbing:
Al-Ustadzah Nurul Azizah M.Pd
Disusun Oleh:
Amy FitrianiSiregar
(3920181281083)
PROGAM PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS DARUSSALAM GONTOR PUTRI
2018-2019 M/1439-1440 H
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Sufi adalah istilah untuk mereka
yang mendalami ilmu tasawwuf, sejenis aliran mistik dalam agama Islam. Sudah
menjadi hal yang umum sejak zaman dulu bahwa yang menjadi tokoh sufi adalah
berasal dari kalangan kaum laki-laki, salah seorang ini adalah dari kaum
perempuan yaitu Rabiatul Adawiyah.
Beliau adalah seorang sufi muslimah, hidupnya
tidak pernah bergelimang harta tapi beliau tetap selalu bersabar dan bermunajad
kepada Allah SWT. Beliau hidup membantu ayah nya yang sorang pendayung sampan
untuk menyebrangi sungai setiap harinya.
A. RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa
yang dimaksud dengan sufi? Siapakah sufi muslimah ?
2.
Jelaskan
tentang kehidupan Rabiatul Adawiyah ?
3.
Apa
pandangan para ulama pada Rabiatul Adawiyah?
4.
Sebutkan
puisi Rabiatul Adawiyah?
5.
Sebutkan
sifat-sifat dari Rabiatul Adawiyah?
B. TUJUAN
PEMBAHASAN
1.
Untuk
mengetahui yang dimaksud dengan sufi dan sufi muslimah
2.
Untuk
mengetahui tentang kehidupan Rabiatul Adawiyah
3.
Untuk
mengetahui pandangan para ulama tentang Rabiatul Adawiyah
4.
Untuk
mengetahui puisi-puisi Rabiatul Adawiyah
5.
Untuk
mengetahui sifat-sifat Rabiatul Adawiyah
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Rabiatul Adawiyah seorang wanita sufi
Rabiatul adawiyah adalah seorang
wanita sufi, pada dasarnya jika sufi itu dari laki-laki sudah hal yang sewajar
nya tapi Rabiatul Adawiyah adalah seorang wanita sufi yang memperkenalkan
ajaran Mahabbah (cinta) illahi. sebuah jenjang (maqam) atau tingkatan yang
dilalui oleh seorang salik (penempuh jalan Ilahi).
Selain Rabi’ah al-Adawiyah, sufi
lain yang memperkenalkan ajaran mahabbah adalah Maulana Jalaluddin Rumi, sufi
penyair yang lahir di Persia tahun 604 H/1207 M dan wafat tahun 672 H/1273 M.
Rabiatul Adawiyah juga disebut dengan sufi, apa itu sufi? Sufi adalah mereka
yang mendalami ilmu tassawuf, sejenis aliran mistik dalam ilmu tassawuf.
Dan orang-orang
yang menjadi sufi yaitu :
1.
Al-Hallaj
2.
Jalaluddin
Rumi
3.
Syekh
Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi
4.
Syekh
Abdul Qadir Jaelani
5.
Abu
Nawas
6.
Syekh
Abul Hasan Asy Syadzili[1]
Dan semua
adalah kalangan laki-laki sangat jarang seorang wanita mendalami ilmu tasowuf
ini seperti nama-nama yang tertera diatas.
[1]Syinen, “FULL
KISAH RUBIYAH AL ARABIYAH DARI BERBAGAI MACAM VERSI”, file:///C:/Users/User/Downloads/rabiatul/full-kisah-rubiah-al-adawiyah-dari.html, Tanggal 18
September 2018, pukul 19.35
A.
Kehidupan
Rabiatul Adawiyah
Rabiatul Adawiyah adalah seorang
wanita yang lahir di Persia pada tahun 604 H/1207 M. Ia adalah seorang yang
sangat miskin , ayah nya adalah pendayung sampan bernama Ibrahim dan tidak
banyak orang yang tau tentang ayahnya, agar sampannya selalu ada penumpang ayah
nya menyuruh Rabiatul Adawiyah untuk menyanyi diatas sampannya mulai dari
situlah banyak penumpang yang menyukai tentang lagu nya dan sya’ir.
Ayah nya tidak pernah berfikir untuk
meminta-minta karena ayah nya tau kalau bantuan Allahakan datang kapan saja,
ayahnya memiliki empat anak dan Rabiatul Adawiyah anak yang ke-empat ini
walaupunayah nya miskin selalu memegang
prnsip teguh dari para ayah nya.
Sampai pada akhirnya ayah nya
meninggal dunia Rabiatul Adawiyah lah yang menggantikan posisi ayahnya menjadi
pendayung sampan. Rabiatul Adawiyah menjadi seorang yang selalu taat kepada
Allah selalu berzikir kepada Allah dan selalu mencari ridho dari tuhan nya
seolah hidupnya hanya untuk Allah semata dan hanya untuk mencari ridho dari
Allah semata.
B.
Sya’ir Rabiatul Adawiyah
Rabiatul Adawiyah sebagai seorang
sufi ia mermunajad kepada Allah sambil manyiarkan sya’ir di dalam do’anya
kepada Allah salah satunya adalah:
"Jangan engkau bersedih, karena kelak dikemudian hari
orang-orang yang dekat denganKu (Allah SWT) akan cemburu melihat
kedudukanmu".
Hidup nya juga unuk selalu berzuhud kepada Allah, danjuga
mengisinya dengan beribadah kepada Allah SWT yang menjadi tumpuan kecintaan nya
kepada Allah, sebagaimana yang beliau katakan:
"Aku tinggalkan cintanya Laila dan Su'da mengasing diri Dan
kembali bersama rumahku yang pertama. Dengan berbagai kerinduan mengimbauku,
Tempat-tempat kerinduan cinta abadi".
Pada suatu hari Rabiatul Adawiyah
ditanya kenapa ia menjadi seorang zahid (tak tertarik pada kesenangan duniawi)
dan tak tertarik dengan pertolongan orang lain, ia menjawab:
“Saya malu meminta sesuatu pada Dia yang memilikinya, apalagi pada
orang-orang yang bukan menjadi pemilik sesuatu itu. Sesungguhnya Allah lah yang
memberi rezeki kepadaku dan kepada mereka yang kaya. Apakah Dia yang memeberi
rezeki kepada orang yang kaya, tidak memberi rezeki kepada orang-orang miskin?
Sekiranya dia menghendaki begitu, maka kita harus menyadari posisi kita sebagai
hamba-Nya dan haruslah kita menerimanya dengan hati rida (senang).”[1]
C.
Pandangan Para Ulama
Para ulama memandang Rabiatul Adawiyah sebagai tonggak yang sangat
penting pada ilmu tasowuf ini, karena dengan ilmu ini tasawuf ia mengajarkan
untuk tidak takut kepada Allah melainkan untuk tambah mencintai Allah SWT.
Rabi'ah telah membuka jalan ma'rifat Illahi
sehingga ia menjadi teladan bagi para cendikiawan muslim, seperti Sufyan
ath-Thawri, Rabah bin Amr al-Qaysi, dan Malik bin Dinar.Ajaran-ajaran nya
terhadap ilmu tasowuf dan sumbangan nya
sangat besar, sebagai seorang guru dan penuntut kehidupan sufistik Rabiah
menjadi panutan para ulama dan selalu menjadi bahan pembicaraan nya dan
mengutip sya’ir-sya’ir dari seorang Rabiatul ini.
Di antaramereka adalah Abu Thalib al-Makki,
As-Suhrawandi, dan teolog muslim, Al-Ghazali yang mengacu pada ajaran-ajaran
Rabi'ah sebagai doktrin-doktrin dalam sufisme.
Salah satu dari sya’ir nya adalah:
“Aku cinta padamu
dua macam cintaCinta rindu
dan cinta karena engkau berhak menerima cintaku
Adapun cinta, karena Engkau
Hanya Engkau yang aku kenang tiada yang lain
Adapun cinta karena Engkau berhak menerimanya
Agar Engkau buka kan aku hijab
Supaya aku dapat melihat Engkau
Pujian atas kedua perkara itu bukanlah bagiku
Pujian atas kedua perkara itu adalah bagi Mu sendiri”.
D.
Puisi-puisi Rabiatul Adawiyah
1.
Ya
Allah, apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di dunia ini,
Berikanlah kepada musuh-musuh-Mu
Dan apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di akhirat
nanti,
Berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu
Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku.
2.
Sulit
menjelaskan apa hakikat cinta
Ia
kerinduan dari gambaran perasaan
Hanya
orang
yang
merasakan dan mengetahui
Bagaimana
mungkin
Engkau
dapat menggambarkan
Sesuatu
yang engkau sendiri bagai hilang
dari
hadapan-Nya, walau ujudmu
Masih
ada karena hatimu gembira yang
Membuat
lidahmu kelu.
3.
Aku
pahami sebagai pertanda
Atas
keagungan-Mu
Sebagai
saksi abadi, atas keesaan-Mu dan
Sebagai
kabar berita bagi manusiaBahwa tak satu pun ada
Yang
menandingi dan menyekutui-Mu.[2]
E.
Sifat-sifat Rabi’atul Adawiyah
a.
Sabar
Rabiatul
Adawiyah selalu hidup miskin tetapi ia selalu bersabar dalam menghadapi segala
ujian yang datang dari Allah. Seperti walau ia setiap hari harus mendayung
sampan dengan ayah nya dia tetap membantu ayah nya,apalagi ketika sampan
ayahnya dicuri dia tetap bersabar dan meminta petunjuk dengan Allah.
b.
Bersyukur
Rabiatul
Adawiyah selalu bersyukur dengan apa yang diberikan kepada Allah dengan cara
meningkatkan amalan kerohanian nya. Dia dipimpin dengan seorang mursyid yang
bernama Hasan Albasri dan mengembangkan dirinya untuk bermunajad kepada
penciptanya.
c.
Berzuhud
Rabiatul
Adawiyah tinggal di pondok kecil tidur dengan serphan tembukar dan berselimut
sepucuk tikar lusuh. Zuhud bukan berarti miskin tetapi memfokuskan diri
terhadap Allah SWT dan tak pernah memikirkan Allah karena dengan merzikir
kepadanya itu sudah cukup.[3]
F.
Akhir hidup Rabiatul Adawiyah
Ketika sepulang nya Rabiaul Adawiyah
dari Makkah selesai dari melaksanakan ibadah haji kesehatan nya semakin
memburuk, Ia tinggal bersama sahabatnya, Abdah binti Abi Shawwal yang menemani
nya selama ini hingga pada saat-saat terakhirnya, Rabiah tak pernah untuk ingin
menyusahkan orang lain hingga pada saat ia meninggal pun Abdah binti Abi
Shawwal lah yang membungkus jenazah nya sesuai dengan apa yang ia perintahkan.
ia membungkus jenazah nya yang telah disediakan sejak lama. Banyak orang-orang
yang mendampinginya tapi ia menolak. Rabiah diperkirakan meninggal dalam usia
83 tahun pada tahun 801 Masehi / 185 Hijriah dan dimakamkan di Bashrah, Irak.[4]
BAB
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
1.
Sufi
adalah istilah untuk mereka yang mendalami ilmu tasawwuf, sejenis aliran mistik
dalam agama Islam. Sufi muslimah yaitu Rabiatul Adawiyah.
2.
Rabiatul
Adawiyah adalah seorang wanita yang lahir di Persia pada tahun 604 H/1207 M. Ia
adalah seorang yang sangat miskin , ayah nya adalah pendayung sampan bernama
Ibrahim dan tidak banyak orang yang tau tentang ayahnya. Sampai pada akhirnya
ayah nya meninggal dunia Rabiatul Adawiyah lah yang menggantikan posisi ayahnya
menjadi pendayung sampan. Rabiatul Adawiyah menjadi seorang yang selalu taat
kepada Allah selalu berzikir kepada Allah dan selalu mencari ridho dari tuhan
nya.
3.
Para
ulama memandang Rabiatul Adawiyah sebagai tonggak yang sangat penting pada ilmu
tasowuf ini, karena dengan ilmu ini tasawuf ia mengajarkan untuk tidak takut
kepada Allah melainkan untuk tambah mencintai Allah SWT.
4.
Aku
pahami sebagai pertanda
Atas keagungan-Mu
Sebagai saksi abadi, atas keesaan-Mu dan
Sebagai kabar berita bagi manusiaBahwa tak satu pun ada
Yang
menandingi dan menyekutui-Mu.
5.
Penyabar,
selalu bersabar, selalu berzuhud kepada Allah
B.
PENUTUP
Demikian tentang paper saya yang berjudul “Kehidupan Rabiatul Adawiyah”, kami tutup dengan bacaan alhamdallah semoga dapat menambah wawasan tentang salah satu sufi ini. Mohon maaf jika terjadi sebuah kesalahan karena kesempurnaan hanya milik Allah semata. Terimakasih
Demikian tentang paper saya yang berjudul “Kehidupan Rabiatul Adawiyah”, kami tutup dengan bacaan alhamdallah semoga dapat menambah wawasan tentang salah satu sufi ini. Mohon maaf jika terjadi sebuah kesalahan karena kesempurnaan hanya milik Allah semata. Terimakasih
DAFTAR PUSTAKA
1.
Syinen,
, “FULL KISAH RUBIYAH AL ARABIYAH DARI BERBAGAI MACAM VERSI”, Tanggal 18
September 2018, file:///C:/Users/User/Downloads/rabiatul/full-kisah-rubiah-al-adawiyah-dari.html
2.
“Rabi’ah
Al-adawiyah”,tanggal 18 September 2018, tasawuf
/rabiatul/rabi’ah-al-adawiyah.htm
3.
Setiyawan
Dwiki, “puisi-puisi Rabi’ah Al-adawiyah as-sufi”, , tanggal 19 September 2018,
tasawuf/rabiatul/puisi-puisi-sufi-rabiah-al-adawiyah.html
4.
Islam
Fajrul, “10 sifat teladan Rabiatul Adawiyah”, tanggal 19 September, 2018
http//10 sifat rabiatul adawiyah untuk diteladani.html
5.
Rabi’ah
Al-adawiyah, , tanggal 19 September 2018https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rabi%27ah_al-Adawiyyah&oldid
[1]“Rabi’ah
Al-adawiyah”, tasawuf/rabiatul/Rabi'ah_al-Adawiyyah.htm, tanggal 18 September
2018, pukul 20.18
[2]Setiyawan
Dwiki, “puisi-puisi Rabi’ah Al-adawiyah as-sufi”, tasawuf/rabiatul/puisi-puisi-sufi-rabiah-al-adawiyah.html,
tanggal 19 September 2018, pukul 08.17
[3]Islam Fajrul,
“10 sifat teladan Rabiatul Adawiyah”, http//10 sifat rabiatul adawiyah untuk diteladani.html,
tanggal 19 September 2018, pukul 10.05
[4]Rabi’ah
Al-adawiyah, https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rabi%27ah_al-Adawiyyah&oldid=13756817, tanggal 19
September 2018, pukul 10.20
Tidak ada komentar:
Posting Komentar