Kamis, 03 Januari 2019

Akhlak Tasawuf


“RABIATUL ADAWIYAH”
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas:
AKHLAK TASAWUF


                                  Gambar terkait

Dosen Pembimbing:
Al-Ustadzah Nurul Azizah M.Pd

Disusun Oleh:
Amy FitrianiSiregar
(3920181281083)

PROGAM PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS DARUSSALAM GONTOR PUTRI
2018-2019 M/1439-1440 H




BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sufi adalah istilah untuk mereka yang mendalami ilmu tasawwuf, sejenis aliran mistik dalam agama Islam. Sudah menjadi hal yang umum sejak zaman dulu bahwa yang menjadi tokoh sufi adalah berasal dari kalangan kaum laki-laki, salah seorang ini adalah dari kaum perempuan yaitu Rabiatul Adawiyah.
 Beliau adalah seorang sufi muslimah, hidupnya tidak pernah bergelimang harta tapi beliau tetap selalu bersabar dan bermunajad kepada Allah SWT. Beliau hidup membantu ayah nya yang sorang pendayung sampan untuk menyebrangi sungai setiap harinya.
A.   RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dengan sufi? Siapakah sufi muslimah ?
2.      Jelaskan tentang kehidupan Rabiatul Adawiyah ?
3.      Apa pandangan para ulama pada Rabiatul Adawiyah?
4.      Sebutkan puisi Rabiatul Adawiyah?
5.      Sebutkan sifat-sifat dari Rabiatul Adawiyah?

B.   TUJUAN PEMBAHASAN
1.      Untuk mengetahui yang dimaksud dengan sufi dan sufi muslimah
2.      Untuk mengetahui tentang kehidupan Rabiatul Adawiyah
3.      Untuk mengetahui pandangan para ulama tentang Rabiatul Adawiyah
4.      Untuk mengetahui puisi-puisi Rabiatul Adawiyah
5.      Untuk mengetahui sifat-sifat Rabiatul Adawiyah
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Rabiatul Adawiyah seorang wanita sufi
Rabiatul adawiyah adalah seorang wanita sufi, pada dasarnya jika sufi itu dari laki-laki sudah hal yang sewajar nya tapi Rabiatul Adawiyah adalah seorang wanita sufi yang memperkenalkan ajaran Mahabbah (cinta) illahi. sebuah jenjang (maqam) atau tingkatan yang dilalui oleh seorang salik (penempuh jalan Ilahi).
Selain Rabi’ah al-Adawiyah, sufi lain yang memperkenalkan ajaran mahabbah adalah Maulana Jalaluddin Rumi, sufi penyair yang lahir di Persia tahun 604 H/1207 M dan wafat tahun 672 H/1273 M. Rabiatul Adawiyah juga disebut dengan sufi, apa itu sufi? Sufi adalah mereka yang mendalami ilmu tassawuf, sejenis aliran mistik dalam ilmu tassawuf.
Dan orang-orang yang menjadi sufi yaitu :
1.      Al-Hallaj
2.      Jalaluddin Rumi
3.      Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi
4.      Syekh Abdul Qadir Jaelani
5.      Abu Nawas
6.      Syekh Abul Hasan Asy Syadzili[1]
Dan semua adalah kalangan laki-laki sangat jarang seorang wanita mendalami ilmu tasowuf ini seperti nama-nama yang tertera diatas.


[1]Syinen, “FULL KISAH RUBIYAH AL ARABIYAH DARI BERBAGAI MACAM VERSI”, file:///C:/Users/User/Downloads/rabiatul/full-kisah-rubiah-al-adawiyah-dari.html, Tanggal 18 September 2018, pukul 19.35 
A.    Kehidupan Rabiatul Adawiyah
Rabiatul Adawiyah adalah seorang wanita yang lahir di Persia pada tahun 604 H/1207 M. Ia adalah seorang yang sangat miskin , ayah nya adalah pendayung sampan bernama Ibrahim dan tidak banyak orang yang tau tentang ayahnya, agar sampannya selalu ada penumpang ayah nya menyuruh Rabiatul Adawiyah untuk menyanyi diatas sampannya mulai dari situlah banyak penumpang yang menyukai tentang lagu nya dan sya’ir.
 Ayah nya tidak pernah berfikir untuk meminta-minta karena ayah nya tau kalau bantuan Allahakan datang kapan saja, ayahnya memiliki empat anak dan Rabiatul Adawiyah anak yang ke-empat ini walaupunayah nya  miskin selalu memegang prnsip teguh dari para ayah nya.
Sampai pada akhirnya ayah nya meninggal dunia Rabiatul Adawiyah lah yang menggantikan posisi ayahnya menjadi pendayung sampan. Rabiatul Adawiyah menjadi seorang yang selalu taat kepada Allah selalu berzikir kepada Allah dan selalu mencari ridho dari tuhan nya seolah hidupnya hanya untuk Allah semata dan hanya untuk mencari ridho dari Allah semata.

B.     Sya’ir  Rabiatul Adawiyah
Rabiatul Adawiyah sebagai seorang sufi ia mermunajad kepada Allah sambil manyiarkan sya’ir di dalam do’anya kepada Allah salah satunya adalah:
"Jangan engkau bersedih, karena kelak dikemudian hari orang-orang yang dekat denganKu (Allah SWT) akan cemburu melihat kedudukanmu".
Hidup nya juga unuk selalu berzuhud kepada Allah, danjuga mengisinya dengan beribadah kepada Allah SWT yang menjadi tumpuan kecintaan nya kepada Allah, sebagaimana yang beliau katakan:
"Aku tinggalkan cintanya Laila dan Su'da mengasing diri Dan kembali bersama rumahku yang pertama. Dengan berbagai kerinduan mengimbauku, Tempat-tempat kerinduan cinta abadi".
Pada suatu hari Rabiatul Adawiyah ditanya kenapa ia menjadi seorang zahid (tak tertarik pada kesenangan duniawi) dan tak tertarik dengan pertolongan orang lain, ia menjawab:
“Saya malu meminta sesuatu pada Dia yang memilikinya, apalagi pada orang-orang yang bukan menjadi pemilik sesuatu itu. Sesungguhnya Allah lah yang memberi rezeki kepadaku dan kepada mereka yang kaya. Apakah Dia yang memeberi rezeki kepada orang yang kaya, tidak memberi rezeki kepada orang-orang miskin? Sekiranya dia menghendaki begitu, maka kita harus menyadari posisi kita sebagai hamba-Nya dan haruslah kita menerimanya dengan hati rida (senang).”[1]

C.    Pandangan Para Ulama
Para ulama memandang Rabiatul Adawiyah sebagai tonggak yang sangat penting pada ilmu tasowuf ini, karena dengan ilmu ini tasawuf ia mengajarkan untuk tidak takut kepada Allah melainkan untuk tambah mencintai Allah SWT.
 Rabi'ah telah membuka jalan ma'rifat Illahi sehingga ia menjadi teladan bagi para cendikiawan muslim, seperti Sufyan ath-Thawri, Rabah bin Amr al-Qaysi, dan Malik bin Dinar.Ajaran-ajaran nya terhadap ilmu tasowuf  dan sumbangan nya sangat besar, sebagai seorang guru dan penuntut kehidupan sufistik Rabiah menjadi panutan para ulama dan selalu menjadi bahan pembicaraan nya dan mengutip sya’ir-sya’ir dari seorang Rabiatul ini.
 Di antaramereka adalah Abu Thalib al-Makki, As-Suhrawandi, dan teolog muslim, Al-Ghazali yang mengacu pada ajaran-ajaran Rabi'ah sebagai doktrin-doktrin dalam sufisme.
Salah satu dari sya’ir nya adalah:
            “Aku cinta padamu dua macam cintaCinta rindu
dan cinta karena engkau berhak menerima cintaku
Adapun cinta, karena Engkau
Hanya Engkau yang aku kenang tiada yang lain
Adapun cinta karena Engkau berhak menerimanya
Agar Engkau buka kan aku hijab
Supaya aku dapat melihat Engkau
Pujian atas kedua perkara itu bukanlah bagiku
Pujian atas kedua perkara itu adalah bagi Mu sendiri”.
D.    Puisi-puisi Rabiatul Adawiyah
1.      Ya Allah, apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di dunia ini,
Berikanlah kepada musuh-musuh-Mu
Dan apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,
Berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu
Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku.

2.      Sulit menjelaskan apa hakikat cinta
Ia kerinduan dari gambaran perasaan
Hanya orang
yang merasakan dan mengetahui
Bagaimana mungkin
Engkau dapat menggambarkan
Sesuatu yang engkau sendiri bagai hilang
dari hadapan-Nya, walau ujudmu
Masih ada karena hatimu gembira yang
Membuat lidahmu kelu.

3.      Aku pahami sebagai pertanda
Atas keagungan-Mu
Sebagai saksi abadi, atas keesaan-Mu dan
Sebagai kabar berita bagi manusiaBahwa tak satu pun ada
Yang menandingi dan menyekutui-Mu.[2]



E.     Sifat-sifat Rabi’atul Adawiyah
a.       Sabar
Rabiatul Adawiyah selalu hidup miskin tetapi ia selalu bersabar dalam menghadapi segala ujian yang datang dari Allah. Seperti walau ia setiap hari harus mendayung sampan dengan ayah nya dia tetap membantu ayah nya,apalagi ketika sampan ayahnya dicuri dia tetap bersabar dan meminta petunjuk dengan Allah.
b.      Bersyukur
Rabiatul Adawiyah selalu bersyukur dengan apa yang diberikan kepada Allah dengan cara meningkatkan amalan kerohanian nya. Dia dipimpin dengan seorang mursyid yang bernama Hasan Albasri dan mengembangkan dirinya untuk bermunajad kepada penciptanya.
c.       Berzuhud
Rabiatul Adawiyah tinggal di pondok kecil tidur dengan serphan tembukar dan berselimut sepucuk tikar lusuh. Zuhud bukan berarti miskin tetapi memfokuskan diri terhadap Allah SWT dan tak pernah memikirkan Allah karena dengan merzikir kepadanya itu sudah cukup.[3]

F.     Akhir hidup Rabiatul Adawiyah
Ketika sepulang nya Rabiaul Adawiyah dari Makkah selesai dari melaksanakan ibadah haji kesehatan nya semakin memburuk, Ia tinggal bersama sahabatnya, Abdah binti Abi Shawwal yang menemani nya selama ini hingga pada saat-saat terakhirnya, Rabiah tak pernah untuk ingin menyusahkan orang lain hingga pada saat ia meninggal pun Abdah binti Abi Shawwal lah yang membungkus jenazah nya sesuai dengan apa yang ia perintahkan. ia membungkus jenazah nya yang telah disediakan sejak lama. Banyak orang-orang yang mendampinginya tapi ia menolak. Rabiah diperkirakan meninggal dalam usia 83 tahun pada tahun 801 Masehi / 185 Hijriah dan dimakamkan di Bashrah, Irak.[4]


BAB
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
1.      Sufi adalah istilah untuk mereka yang mendalami ilmu tasawwuf, sejenis aliran mistik dalam agama Islam. Sufi muslimah yaitu Rabiatul Adawiyah.
2.      Rabiatul Adawiyah adalah seorang wanita yang lahir di Persia pada tahun 604 H/1207 M. Ia adalah seorang yang sangat miskin , ayah nya adalah pendayung sampan bernama Ibrahim dan tidak banyak orang yang tau tentang ayahnya. Sampai pada akhirnya ayah nya meninggal dunia Rabiatul Adawiyah lah yang menggantikan posisi ayahnya menjadi pendayung sampan. Rabiatul Adawiyah menjadi seorang yang selalu taat kepada Allah selalu berzikir kepada Allah dan selalu mencari ridho dari tuhan nya.
3.      Para ulama memandang Rabiatul Adawiyah sebagai tonggak yang sangat penting pada ilmu tasowuf ini, karena dengan ilmu ini tasawuf ia mengajarkan untuk tidak takut kepada Allah melainkan untuk tambah mencintai Allah SWT.
4.      Aku pahami sebagai pertanda
Atas keagungan-Mu
Sebagai saksi abadi, atas keesaan-Mu dan
Sebagai kabar berita bagi manusiaBahwa tak satu pun ada
Yang menandingi dan menyekutui-Mu.
5.      Penyabar, selalu bersabar, selalu berzuhud kepada Allah

B.     PENUTUP
Demikian tentang paper saya yang berjudul “Kehidupan Rabiatul Adawiyah”, kami tutup dengan bacaan alhamdallah semoga dapat menambah wawasan tentang salah satu sufi ini. Mohon maaf jika terjadi sebuah kesalahan karena kesempurnaan hanya milik Allah semata. Terimakasih

DAFTAR PUSTAKA


1.      Syinen, , “FULL KISAH RUBIYAH AL ARABIYAH DARI BERBAGAI MACAM VERSI”, Tanggal 18 September 2018,  file:///C:/Users/User/Downloads/rabiatul/full-kisah-rubiah-al-adawiyah-dari.html
2.      “Rabi’ah Al-adawiyah”,tanggal 18 September 2018, tasawuf /rabiatul/rabi’ah-al-adawiyah.htm
3.      Setiyawan Dwiki, “puisi-puisi Rabi’ah Al-adawiyah as-sufi”, , tanggal 19 September 2018,  tasawuf/rabiatul/puisi-puisi-sufi-rabiah-al-adawiyah.html
4.      Islam Fajrul, “10 sifat teladan Rabiatul Adawiyah”, tanggal 19 September, 2018 http//10 sifat rabiatul adawiyah untuk diteladani.html
5.      Rabi’ah Al-adawiyah, , tanggal 19 September 2018https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rabi%27ah_al-Adawiyyah&oldid


[1]“Rabi’ah Al-adawiyah”, tasawuf/rabiatul/Rabi'ah_al-Adawiyyah.htm, tanggal 18 September 2018, pukul 20.18
[2]Setiyawan Dwiki, “puisi-puisi Rabi’ah Al-adawiyah as-sufi”,  tasawuf/rabiatul/puisi-puisi-sufi-rabiah-al-adawiyah.html, tanggal 19 September 2018, pukul 08.17
[3]Islam Fajrul, “10 sifat teladan Rabiatul Adawiyah”, http//10 sifat rabiatul adawiyah untuk diteladani.html, tanggal 19 September 2018, pukul 10.05
[4]Rabi’ah Al-adawiyah, https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rabi%27ah_al-Adawiyyah&oldid=13756817, tanggal 19 September 2018, pukul 10.20 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar