"AKRONIM"
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Akronim
berlembang pesat dalam pengguanaan bahasa Indonesia.Perkembangan itu dapat
berupa perkembangan secara linguistic maupun sosio-politis.Secara linguistic,
maupun sosio-politis.Secara linguistic, perkembangan itu merupakan hal
wajar, namun sering tidak taat asas sehingga berpengaruh pada keilmiahannya.
Secara sosiologis, akronim di samping berfungsi sebagai pemendekan frase atau
nama, akronim juga berfungsi sebagai semboyan dan media humor. Secara politis,
pelembagaan akronim didasarkan pada alasan: a.) mengkomunikasikan identitas
(daerah), b.)dorongan spiritual nasionalis dan religious, dan c.) pemitosan
pada masa lalu.
Dari
waktu ke waktu penggunaan bahasa Indonesia sering disibukkan dengan kehadiran
akronim, inisialisme, dan singkatan. Erkelens dalam Pasmidi (1992: ix)
mengatakan bahwa tingkat penggunaan akronim, inisialisme, dan singkatan cukup mencengangkan.
Setiap bulan diterangai ada 450 jenis akronim baru bermunculan.Di samping
perkembangan yang bersifat ilmiah, terdapat perkembangan yang terlembagakan dan
bersifat sosio-politis.Di lingkungan daerah terdapat gejala pengakroniman
semboyan daerah.Setiap kabupaten/kota “diharuskan” memiliki semboyan daerah
yang diakronimkan.Semakin membengkaknya jumlah akronim, inisial, dan singkatan
ini memunculkan tafsiran ganda.Dengan demikian, apakh kita termasuk orang-orang
semakin kretif ataukah orang-orang yang suka menggampangkan persoalan?
Akronim
sebagai salah satu gejala perkembangan bahasa yang sedang melanda bahasa Indonesia
sering terhambat, bahkan menyumbat jaringan komunikasi antara penulis/pembicara
dengan pembaca/penyimak. Dalam perkembangannya inilah akronim melahirkan
berbagai masalah.Masalahnya adalah apakah bahasa atau akronim yang digunakan
sesuai dengan fungsinya atau tidak.Kemudian, apakah penggunaan akronim tersebut
sesuai dengan kaidah yang berlaku atau tidak. Hal lain yang perlu menjadi
perhatian adalah apakah akronim yang digunakan sudah mampertimbangkan dari segi
sosio-politiknya. Tentu banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan
akronim tersebut baik dari segi aying al, maupun sosio-politiknya.
Perkembangan-perkembangan akronim dalam bahasa Indonesia ini tentu perlu terus
didorong sesuai dengan perkembangan masyarakat dan budayanya, namun perlu terus
dikontrol agar penggunaannya tetap pengacu pada kaidah kebahasaan yang sesuai
dengan tata nilai budaya, serta sosio-politis yang ada.
Dalam
pembahasan ini difokuskan pada masalah-masalah arti akronim, manfaat akronim
dalam perkembangan bahasa Indonesia, pola kontruksi akronim bahasa Indonesia,
dan aying sosio-politis yang melandasi perkembangan akronim.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Arti Akronim
2.
Fungsi Akronim
3.
Akronim sebagai Semboyan dan Media Humor
4.
Pola Konstruksi Akronim Bahasa Indonesia
5.
Alasan Politis Pelembagaan Akronim
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Arti Akronim
Dalam
Dictionary Language and Linguistic, Hartman (1973: 1) menyatakan bahwa
“acronyms are words formed from the initial letters of the words in phrase.”
Melihat semakin kompleksnya proses bentukan akronim, dalam Websters Ninth
New Collegiate Dictionary dinyatakan bahwa “acronyms is a woed forms from
the initial, syllables of letters of otherwords.” Sejalan dengan pernyataan
tersebut, Rahman (1981 : 143) mengartikan akronim sebagai hasil gabungan silabe
kata huruf dari aying kelompok kata ataupun gabungan silabe kata dalam frase.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan batasan akronim sebagai
kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagisan lain yang
ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar (Moeliono dkk, 1994 : 4). Kita
mengenal rudal, tilang, kabag, sebagai kependekan dari peluru
kendali, bukti pelanggaran, dan kepala bagian.
Jika
diperhatikan, beberapa arti yang ditulis para ahli diatas dapat disimpulkan
bahwa:
1.
Akronim merupakan kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku
kata;
2.
Akronim dibentuk dari sebuah frase; dan
3.
Akronim ditulis dan dilafalkan seperti kata.
Dengan kaca mata linguistik, Bauer (1984) mensejajarkan gejala
pengakroniman dengan kliping (clipping) dan blending (blends) sebagai
gejala pembentukan kata yang tidak dapat diramalkan. Nauer (1984 : 233-240)
menjelaskan perbedaan antara ketiga gejala tersebut. Kliping didefinisikan
sebagai proses pemendekan leksim (simpleks atau pun kompleks) yang tidak
mengubah makna dan kelas katanya. Di masyarakat dikenal prof., dok., lab. Sebagai
kependekan dari aying al, dokter, laboratorium.Blending adalah sebuah
leksem baru yang dibentuk dari bagian dua atau lebih kata lain yang tidak jelas
kerangka analisis morfologinya. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai slithy
(little and slimy) dan accology (architechtural and ecology).Definisi
akronim yang dikemuakan oleh Bauer sejalan dengan beberapa defiisi yang telah
dikemukakan sebelumnya. Sebuah kata yang dibuat dengan meletakkan huruf awal
kata pada nama atau frase yang diperlukan sebagai kata baru.
Bentuk akronim yang sudah terlalu lama “diakui” sebagai kata, asa
kecenderungan dilupakan kepanjangannya.Bahkan masyarakat cenderung memilih
penggunaan bahasa yang lebih singkat.Pengguna bahasa Indonesia saat ini
cenderung lupa atau kata bemo berasal dari becak bermotor.Tidak
meutup kemungkinan, bentuk-bentuk seperti tilang, bimas, Hansip,
anglingdarma, dan lain-lain oleh generasi yang akan dating tidak mengetahui
lagi asal-usulnya dan dianggap sebagai sebuah kata utuh.
2.
Fungsi Akronim
Terlepas dari berbagai kelemahannya, dari waktu ke waktu, akronim
semakin mendapat tempat dalam penggunaannya di masyarakat kita. Hal ini bias
terjadi karena ditengarai akronim memiliki beberapa fungsi. Semula fungsi
akronim tidak lebih dari singkatan.Pada akhir-akhir ini fungsi tersebut
mengalami perluasan. Akronim bias digunakan sebagai penyingkat fase atau nama,
semboyan, dan media humor.
3.
Akronim sebagai Semboyan dan Media Humor
Kita berkeliling dari kota yang satu ke kota yang lain di Indonesia
ditemukan akronim-akronim yang digunakan sebagai semboyan. Semboyan ini
berdirikan daerah masing-masing.Warga Kabupaten Kediri berupaya agar daerahnya Bersinar
Terang (bersih, menarik, tertib, dan aman).Jombang dikenal dengan semboyan
sebagai Kota Beriman (bersih, indah, dan aman).Munculnya semboyan dalam
bentuk akronim merupakan salah satu bentuk hegemoni bahasa yang dilakukan oleh
kaum birokrat dan politis.
Selain sebagai semboyan, tak terhitung banyaknya akronim yang
dihadirkan sebagai media humor atau berseloroh.Dalam hal ini sekedar ayi
dihadirkan akronim humor yang digunakan dalam penuturan, seperti berikut ini.
Himapala = himpunan mahasiswa paling lama
Susu
Tante = sumbangan suka rela tanpa
tekanan
Simanse = simpanse pakai batik
APEC = Asosiasi Pedagang Eceran
FIP = Fakultas Ilmu Pelawak
Meluasnya akroniminasi menunjukkan bahwa tidak ekuivalen hubungan
antara akroniminasi dengan tingkatan social dan intelektualitas masyarakat. Di
lingkungan masyarakat luas, subur berkembang akronnim humor yang beragam.
Akronim humor ini cendeung dimunculkan oleh penutur dalam suasana
santai.Akronim-akronim tersebut muncul atas dasar iseng para penutur untuk
bercanda dengan teman sebayanya.Penutur berusaha membiasakan kepanjangan
akronim yang ada atau menghadirkan akronim baru berdasarkan kata-kata yang ada
dalam bahasa.
4.
Pola Konstruksi Akronim Bahasa Indonesia
Pola konstruksi akronim bahasa Indonesia yang berkembang saat ini
dapat dideskripsikan sebagai berikut:
a.)
Rangkaian suku awal setiao aying
Konjen = Konsulat Jenderal
Bima (kereta api) biru
malam
Balita = bawah lima tahun
b.)
Rangkaian suku awal aying pertama dengan aying kedua secara utuh
buras = bukan ras
Angair angkatan air
c.)
Rangkaian suku awal aying pertama dengan aying kedua
Markus = makelar kasus
sarling = sadar lingkungan
Dansek = komandan aying
d.)
Rangkaian suku awal aying pertama dengan suku terakhir kedua
duren = duda keren
jukir = juru parkir
Berdasarkan deskripsi tersebut diatas tampak betapa tidak taat
asanya pola konstruksi akronim bahasa Indonesia.Hal ini berpengaruh pada ciri
keilmiahan bahasa Indonesia.Di samping bersifat arbirter, bahasa sebagai alat
komunikasi bersifat konvensional.Hal ini menunjukkan lemahnya antologi,
epistomologi, dan kontribusi kerangka pembentukan kata bahasa
Indonesia.Demikian pula, jika dilihat dari kerangka berpikir Chomsky yang
menyatakan bahwa ilmu bahasa harus memiliki kepadaan observasional, deskriptif,
dan eksplanatori. Keberadaan akronimisasi bahasa Indonesia tidak memenuhi
kepadaan eksplanatori.
Sering kita merasakan bahwa komposisi akronim semakin lama semakin
rumit, bahkan semakin sederhana dan mudah dipahami sebagaimana yang diharapkan
dari suatu wacana yang komunitatif. Penggunaan bahasa Indonesia sering juga
“menyingkat akronim” atau “mengakronimkan akronim”. Dalam bahasa Indonesia
dikenal adanya IDT (Inpres Desa Tertinggal), AMD (ABRI Masuk Desa), Pangab
(Panglima ABRI), dan lain-lain. Pengguna bahasa Indonesia mengetahui bahwa Inpres,
ABRI, danUAN itu akronim.
Yang perlu dipertanyakan, penyingkatan / pengakroniman semacam itu merupakan
tindakan kreativitas berbahsa ataukah “pemerkosaan bahasa?”.
Gejala lain yang muncul adalah komposisiakronim adalah lahirnya
majas pleonasme. Penggunaan bahasa Indonesia berusaha menjelaskan sesuatu yang
sudah jelas terwakili dalam akronim. Kita mengenal Bank BNI, Bank BRI ,dan
Partai PAN. Kata bank sebenarnya sudah ada pada BNI (Bank Negara Indonesia) dan
BRI (Bank Republik Indonesia) dan kata partai sudah ada pada PAN (Partai Amanat
Nasional).
5.
Alasan Politis Pelembagaan Akronim
Perkembangan akronim merupakan bagian dari hegemoni politik bahasa
Indonesia yang menurut Daniel Dhakide dalam Latif dan Ibrahim (1996) merupakan
bagian terpenting wacana politim Indonesia (sejak Orde lama hingga Orde baru).
Dalam hegemoni politik bahasa Indonesia ini, bahasa tidak dimengerti secara
konteks konvensional perspektif, sekedar alat netral untuk menjelaskan fakta
social politik, bahasa dipandang sebagai representasi penggelaran berbagai
macam kuasa. Sebagai bagian dari wacana politik, pengakroniman bertujuan untuk
melibatkan masyarakat dalam pembanguna pada setiap tingkat dan ranah kehidupan
berbangsa dan bernegara. Perlibatan dalam pembangunan ini memprasangkakan
perkembangan berbagai kepentingan, kekuatan, kuasa, proses hegemoni, dan
hegemini tandingan dalam proses pengakroniman.
Dengan memperhatikan kedudukan akronim dalam proses pelibatan
masyarakat dalam pembangunan, berikut ini dikemukakan alasan politik
perkembangan.
BAB III
KESIMPULAN
1.)
Akronim merupakan kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku
kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar.
2.)
Akronim sebagai salah satu dari tiga geja;a perkembangan bahasa
yang sedang melanda baha Indonesia sering terhambat, bahkan menyumbat jaringan
komunikasi antara penulis / pembicara dengan pembaca / penyimak.
3.)
Secara linguistik, akronim merupakan gejala wajar prkembangan
bahasa. Bukan hanya pada bahasa yang sedang berkembang sebagaimana bahasa
Indoneisa, maleainkan akronim berkembang pesat pada bahasa-bahasa lain yang
telah maju seperti bahasa Inggris.
4.)
Ciri morfologis akronim bahasa Indonesia menunjukkan gejala tidak
taat asas. Hal ini dapat berpengaruh pada ciri keilmiahan bahasa Indonesia
bahkan mengacaukan tindak komunikasi.
5.)
Secara sosiologis, di samping berfungsi sebagai pemendekan frase
atau nama, akronim juga berfungsi sebagai semboyan dan media humor.
6.)
Secara Politis, pelembagaan akronim didasarkan pada abstrak: a.)
mengomunisasikan identitas (daerah), b.) doronga spiritual nasionalis dan
religious, dan c.) pemitosan pada masa lalu.
7.)
Perkembangan dan penggunaan akronim dalam bahasa Indonesia perlu
terus didorong sesuai dengan perkembangan dan budayanya, namun perlu terus
dikontrol agar penggunaannya tetap pengacu pada kaidah tata nilai budaya, serta
sosio-politis yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, T.. 1995. Situasi Kebahasaan Masa Kini: Faktor Eksternal
Kebahasaan danPerspektif Sejarah.”Makalah Disajikan dalam Seminar Nasional
SejarahPerkembangan Bahasa Indonesia”.Universitas Udayana, Denpasar, Tanggal
27-28 Juli 1995.
Anwar, Kh..1994. Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Moeliono dkk..1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka.
Pasmidi, A. 1992. Kamus Akronim, Inisialisme, dan Singkatan.
Jakarta: Grafiti.
Rahman, A. 1981.Polusi Lingkungan dan Kehidupan Bahasa
Indonesia.“MajalahPembinaan Bahasa Indonesia.”II, (3) hlm.133-151.
Sumowijoyo, Gatot Susilo. 2001. Pos Jaga Bahasa Indonesia.
Surabaya: Unesa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar