Kamis, 03 Januari 2019

Akronim




"AKRONIM"


BAB I
PENDAHULUAN 

        
A.    LATAR BELAKANG

Akronim berlembang pesat dalam pengguanaan bahasa Indonesia.Perkembangan itu dapat berupa perkembangan secara linguistic maupun sosio-politis.Secara linguistic, maupun sosio-politis.Secara linguistic, perkembangan itu merupakan hal wajar, namun sering tidak taat asas sehingga berpengaruh pada keilmiahannya. Secara sosiologis, akronim di samping berfungsi sebagai pemendekan frase atau nama, akronim juga berfungsi sebagai semboyan dan media humor. Secara politis, pelembagaan akronim didasarkan pada alasan: a.) mengkomunikasikan identitas (daerah), b.)dorongan spiritual nasionalis dan religious, dan c.) pemitosan pada masa lalu.
Dari waktu ke waktu penggunaan bahasa Indonesia sering disibukkan dengan kehadiran akronim, inisialisme, dan singkatan. Erkelens dalam Pasmidi (1992: ix) mengatakan bahwa tingkat penggunaan akronim, inisialisme, dan singkatan cukup mencengangkan. Setiap bulan diterangai ada 450 jenis akronim baru bermunculan.Di samping perkembangan yang bersifat ilmiah, terdapat perkembangan yang terlembagakan dan bersifat sosio-politis.Di lingkungan daerah terdapat gejala pengakroniman semboyan daerah.Setiap kabupaten/kota “diharuskan” memiliki semboyan daerah yang diakronimkan.Semakin membengkaknya jumlah akronim, inisial, dan singkatan ini memunculkan tafsiran ganda.Dengan demikian, apakh kita termasuk orang-orang semakin kretif ataukah orang-orang yang suka menggampangkan persoalan?
Akronim sebagai salah satu gejala perkembangan bahasa yang sedang melanda bahasa Indonesia sering terhambat, bahkan menyumbat jaringan komunikasi antara penulis/pembicara dengan pembaca/penyimak. Dalam perkembangannya inilah akronim melahirkan berbagai masalah.Masalahnya adalah apakah bahasa atau akronim yang digunakan sesuai dengan fungsinya atau tidak.Kemudian, apakah penggunaan akronim tersebut sesuai dengan kaidah yang berlaku atau tidak. Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah apakah akronim yang digunakan sudah mampertimbangkan dari segi sosio-politiknya. Tentu banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan akronim tersebut baik dari segi aying al, maupun sosio-politiknya. Perkembangan-perkembangan akronim dalam bahasa Indonesia ini tentu perlu terus didorong sesuai dengan perkembangan masyarakat dan budayanya, namun perlu terus dikontrol agar penggunaannya tetap pengacu pada kaidah kebahasaan yang sesuai dengan tata nilai budaya, serta sosio-politis yang ada.
Dalam pembahasan ini difokuskan pada masalah-masalah arti akronim, manfaat akronim dalam perkembangan bahasa Indonesia, pola kontruksi akronim bahasa Indonesia, dan aying sosio-politis yang melandasi perkembangan akronim.


B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Arti Akronim
2.      Fungsi Akronim
3.      Akronim sebagai Semboyan dan Media Humor
4.      Pola Konstruksi Akronim Bahasa Indonesia
5.      Alasan Politis Pelembagaan Akronim


BAB II
PEMBAHASAN
1.      Arti Akronim

Dalam Dictionary Language and Linguistic, Hartman (1973: 1) menyatakan bahwa “acronyms are words formed from the initial letters of the words in phrase.” Melihat semakin kompleksnya proses bentukan akronim, dalam Websters Ninth New Collegiate Dictionary dinyatakan bahwa “acronyms is a woed forms from the initial, syllables of letters of otherwords.” Sejalan dengan pernyataan tersebut, Rahman (1981 : 143) mengartikan akronim sebagai hasil gabungan silabe kata huruf dari aying kelompok kata ataupun gabungan silabe kata dalam frase. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan batasan akronim sebagai kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagisan lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar (Moeliono dkk, 1994 : 4). Kita mengenal rudal, tilang, kabag, sebagai kependekan dari peluru kendali, bukti pelanggaran, dan kepala bagian.
Jika diperhatikan, beberapa arti yang ditulis para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa:
1.      Akronim merupakan kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata;
2.      Akronim dibentuk dari sebuah frase; dan
3.      Akronim ditulis dan dilafalkan seperti kata.
Dengan kaca mata linguistik, Bauer (1984) mensejajarkan gejala pengakroniman dengan kliping (clipping) dan blending (blends) sebagai gejala pembentukan kata yang tidak dapat diramalkan. Nauer (1984 : 233-240) menjelaskan perbedaan antara ketiga gejala tersebut. Kliping didefinisikan sebagai proses pemendekan leksim (simpleks atau pun kompleks) yang tidak mengubah makna dan kelas katanya. Di masyarakat dikenal prof., dok., lab. Sebagai kependekan dari aying al, dokter, laboratorium.Blending adalah sebuah leksem baru yang dibentuk dari bagian dua atau lebih kata lain yang tidak jelas kerangka analisis morfologinya. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai slithy (little and slimy) dan accology (architechtural and ecology).Definisi akronim yang dikemuakan oleh Bauer sejalan dengan beberapa defiisi yang telah dikemukakan sebelumnya. Sebuah kata yang dibuat dengan meletakkan huruf awal kata pada nama atau frase yang diperlukan sebagai kata baru.
Bentuk akronim yang sudah terlalu lama “diakui” sebagai kata, asa kecenderungan dilupakan kepanjangannya.Bahkan masyarakat cenderung memilih penggunaan bahasa yang lebih singkat.Pengguna bahasa Indonesia saat ini cenderung lupa atau kata bemo berasal dari becak bermotor.Tidak meutup kemungkinan, bentuk-bentuk seperti tilang, bimas, Hansip, anglingdarma, dan lain-lain oleh generasi yang akan dating tidak mengetahui lagi asal-usulnya dan dianggap sebagai sebuah kata utuh.
2.      Fungsi Akronim
Terlepas dari berbagai kelemahannya, dari waktu ke waktu, akronim semakin mendapat tempat dalam penggunaannya di masyarakat kita. Hal ini bias terjadi karena ditengarai akronim memiliki beberapa fungsi. Semula fungsi akronim tidak lebih dari singkatan.Pada akhir-akhir ini fungsi tersebut mengalami perluasan. Akronim bias digunakan sebagai penyingkat fase atau nama, semboyan, dan media humor.
3.      Akronim sebagai Semboyan dan Media Humor
Kita berkeliling dari kota yang satu ke kota yang lain di Indonesia ditemukan akronim-akronim yang digunakan sebagai semboyan. Semboyan ini berdirikan daerah masing-masing.Warga Kabupaten Kediri berupaya agar daerahnya Bersinar Terang (bersih, menarik, tertib, dan aman).Jombang dikenal dengan semboyan sebagai Kota Beriman (bersih, indah, dan aman).Munculnya semboyan dalam bentuk akronim merupakan salah satu bentuk hegemoni bahasa yang dilakukan oleh kaum birokrat dan politis.
Selain sebagai semboyan, tak terhitung banyaknya akronim yang dihadirkan sebagai media humor atau berseloroh.Dalam hal ini sekedar ayi dihadirkan akronim humor yang digunakan dalam penuturan, seperti berikut ini.
Himapala    = himpunan mahasiswa paling lama
Susu Tante   = sumbangan suka rela tanpa tekanan
Simanse       = simpanse pakai batik
APEC          = Asosiasi Pedagang Eceran
FIP             = Fakultas Ilmu Pelawak
Meluasnya akroniminasi menunjukkan bahwa tidak ekuivalen hubungan antara akroniminasi dengan tingkatan social dan intelektualitas masyarakat. Di lingkungan masyarakat luas, subur berkembang akronnim humor yang beragam.
Akronim humor ini cendeung dimunculkan oleh penutur dalam suasana santai.Akronim-akronim tersebut muncul atas dasar iseng para penutur untuk bercanda dengan teman sebayanya.Penutur berusaha membiasakan kepanjangan akronim yang ada atau menghadirkan akronim baru berdasarkan kata-kata yang ada dalam bahasa.

4.      Pola Konstruksi Akronim Bahasa Indonesia
Pola konstruksi akronim bahasa Indonesia yang berkembang saat ini dapat dideskripsikan sebagai berikut:
a.)    Rangkaian suku awal setiao aying
Konjen   = Konsulat Jenderal
Bima (kereta api)   biru malam
Balita     = bawah lima tahun
b.)    Rangkaian suku awal aying pertama dengan aying kedua secara utuh
buras   = bukan ras
Angair   angkatan air
c.)    Rangkaian suku awal aying pertama dengan aying kedua
Markus   = makelar kasus
sarling    =  sadar lingkungan
Dansek   = komandan aying
d.)   Rangkaian suku awal aying pertama dengan suku terakhir kedua
duren   = duda keren
jukir     = juru parkir

Berdasarkan deskripsi tersebut diatas tampak betapa tidak taat asanya pola konstruksi akronim bahasa Indonesia.Hal ini berpengaruh pada ciri keilmiahan bahasa Indonesia.Di samping bersifat arbirter, bahasa sebagai alat komunikasi bersifat konvensional.Hal ini menunjukkan lemahnya antologi, epistomologi, dan kontribusi kerangka pembentukan kata bahasa Indonesia.Demikian pula, jika dilihat dari kerangka berpikir Chomsky yang menyatakan bahwa ilmu bahasa harus memiliki kepadaan observasional, deskriptif, dan eksplanatori. Keberadaan akronimisasi bahasa Indonesia tidak memenuhi kepadaan eksplanatori.
Sering kita merasakan bahwa komposisi akronim semakin lama semakin rumit, bahkan semakin sederhana dan mudah dipahami sebagaimana yang diharapkan dari suatu wacana yang komunitatif. Penggunaan bahasa Indonesia sering juga “menyingkat akronim” atau “mengakronimkan akronim”. Dalam bahasa Indonesia dikenal adanya IDT (Inpres Desa Tertinggal), AMD (ABRI Masuk Desa), Pangab (Panglima ABRI), dan lain-lain. Pengguna bahasa Indonesia mengetahui bahwa Inpres, ABRI, danUAN  itu akronim. Yang perlu dipertanyakan, penyingkatan / pengakroniman semacam itu merupakan tindakan kreativitas berbahsa ataukah “pemerkosaan bahasa?”.
Gejala lain yang muncul adalah komposisiakronim adalah lahirnya majas pleonasme. Penggunaan bahasa Indonesia berusaha menjelaskan sesuatu yang sudah jelas terwakili dalam akronim. Kita mengenal Bank BNI, Bank BRI ,dan Partai PAN. Kata bank sebenarnya sudah ada pada BNI (Bank Negara Indonesia) dan BRI (Bank Republik Indonesia) dan kata partai sudah ada pada PAN (Partai Amanat Nasional).
5.      Alasan Politis Pelembagaan Akronim
Perkembangan akronim merupakan bagian dari hegemoni politik bahasa Indonesia yang menurut Daniel Dhakide dalam Latif dan Ibrahim (1996) merupakan bagian terpenting wacana politim Indonesia (sejak Orde lama hingga Orde baru). Dalam hegemoni politik bahasa Indonesia ini, bahasa tidak dimengerti secara konteks konvensional perspektif, sekedar alat netral untuk menjelaskan fakta social politik, bahasa dipandang sebagai representasi penggelaran berbagai macam kuasa. Sebagai bagian dari wacana politik, pengakroniman bertujuan untuk melibatkan masyarakat dalam pembanguna pada setiap tingkat dan ranah kehidupan berbangsa dan bernegara. Perlibatan dalam pembangunan ini memprasangkakan perkembangan berbagai kepentingan, kekuatan, kuasa, proses hegemoni, dan hegemini tandingan dalam proses pengakroniman.
Dengan memperhatikan kedudukan akronim dalam proses pelibatan masyarakat dalam pembangunan, berikut ini dikemukakan alasan politik perkembangan.



BAB III
                                                            KESIMPULAN
1.)    Akronim merupakan kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar.
2.)    Akronim sebagai salah satu dari tiga geja;a perkembangan bahasa yang sedang melanda baha Indonesia sering terhambat, bahkan menyumbat jaringan komunikasi antara penulis / pembicara dengan pembaca / penyimak.
3.)    Secara linguistik, akronim merupakan gejala wajar prkembangan bahasa. Bukan hanya pada bahasa yang sedang berkembang sebagaimana bahasa Indoneisa, maleainkan akronim berkembang pesat pada bahasa-bahasa lain yang telah maju seperti bahasa Inggris.
4.)    Ciri morfologis akronim bahasa Indonesia menunjukkan gejala tidak taat asas. Hal ini dapat berpengaruh pada ciri keilmiahan bahasa Indonesia bahkan mengacaukan tindak komunikasi.
5.)    Secara sosiologis, di samping berfungsi sebagai pemendekan frase atau nama, akronim juga berfungsi sebagai semboyan dan media humor.
6.)    Secara Politis, pelembagaan akronim didasarkan pada abstrak: a.) mengomunisasikan identitas (daerah), b.) doronga spiritual nasionalis dan religious, dan c.) pemitosan pada masa lalu.
7.)    Perkembangan dan penggunaan akronim dalam bahasa Indonesia perlu terus didorong sesuai dengan perkembangan dan budayanya, namun perlu terus dikontrol agar penggunaannya tetap pengacu pada kaidah tata nilai budaya, serta sosio-politis yang ada.





DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, T.. 1995. Situasi Kebahasaan Masa Kini: Faktor Eksternal Kebahasaan danPerspektif Sejarah.”Makalah Disajikan dalam Seminar Nasional SejarahPerkembangan Bahasa Indonesia”.Universitas Udayana, Denpasar, Tanggal 27-28 Juli 1995.
Anwar, Kh..1994. Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Moeliono dkk..1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Pasmidi, A. 1992. Kamus Akronim, Inisialisme, dan Singkatan. Jakarta: Grafiti.
Rahman, A. 1981.Polusi Lingkungan dan Kehidupan Bahasa Indonesia.“MajalahPembinaan Bahasa Indonesia.”II, (3) hlm.133-151.
Sumowijoyo, Gatot Susilo. 2001. Pos Jaga Bahasa Indonesia. Surabaya: Unesa.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar