BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Ilmu pengetahuan alam bermula dari rasa ingin tahu,
yang merupakan salah satu ciri khas manusia.Manusia mempunyai rasa ingin tahu
tentang benda-benda di sekelilingnya, alam sekitarnya, angkasa luar, bahkan
tentang dirinya sendiri.
Rasa ingin tahu itu tidak dimilik oleh makhluk lain.
Jelas kiranya bahwa rasa ingin tahu itu tidak dimiliki oleh benda-benda tak
hidup seperti batu, tanah, api, angina dan sebagainya. Angin dan udara memang
bergerak dari satu tempat ke tempat lain, namun gerakannya itu bukan atas
kehendaknya tetapi sekedar akibat dari pengaruh
alamiah yang bersifat kekal.
Bagaimana dengan binatang yang
menunjukkan adanya kehendak berpindah (eksplorasi) dari satu tempat ke tempat
yang lain?Bagaimana
dengan manusia? Manusia juga memiliki instink seperti yang dimiliki oleh hewan
dan tumbuh-tumbuhan.Namun, manusia memiliki kelebihan, yaitu kemampuan berpikir
tidak tetap seperti itu sepanjang zaman. Manusia memiliki rasa ingin tahu yang
berkembang atau dengan kata lain, manusia mempunyai kemampuan berpikir.
Rasa ingin tahu yang terus
berkembang dan seolah-olah tanpa batas itu menimbulkan perbendaharaan
pengetahuan pada manusia itu sendiri.Hal ini tidak saja meliputi
kebutuhan-kebutuhan praktis untuk hidupnya sehari-hari seperti bercocok tanam
atau membuat panah atau lembing yang lebih efektif untuk berburu, tetapi
pengetahuan manusia juga berkembang sampai kepada hal-hal yang menyangkut
keindahan.
Dengan selalu berlangsungnya
perkembangan pengetahuan tampak lebih nyata bahwa manusia berbeda dari pada hewan.Manusia merupakan
makhluk hidup yang berakal serta mempunyai derajat yang tertinggi bila
dibandingkan dengan hewan atau makhluk selainnnya.
B.
Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang tersebut, dapat
kita ambil beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1. Hakikat manusia dan sifat
keingintahuannya?
2. Perkembangan fisik, sifat dan fikiran
manusia?
3. Bagaimana sejarah pengetahuan manusia ?
C.
Tujuan pembahasan
1. Untuk mengetahui hakikat manusia dan
sifat keingintahuannya.
2. Untuk mengetahui perkembangan fisik,
sifat dan fikiran manusia.
3. Untuk mengetahui sejarah pengetahuan
manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
a.
Hakikat manusia dan sifat keingintahuannya
Pada
hakikatnya, manusia adalah makhluk yang berfikir (Homo sapiens). Hal ini
disebabkan sifat ingin tahu manusia yang besar, selalu bertanya tentang siapa,
apa, bagaimana, kapan, dimana mengapa dan sebagainya. Tuhan memberi manusia
kemampuan berbicara (Homo languens) hingga mampu menyampaikan pertanyaan dan
pendapatnya kepada manusia lain. Manusia juga mampu membuat alat (Homo faber)
yang dapat membantunya mencari nafkah, seperti kemampuan manusia membuat jaring
ikan, panah untuk berburu, pisau, api untuk memasak dsb. Manusia memiliki rasa
keindahan akan sesuatu(Homo aesteticus) sehingga munculah para perancang
bangunan, model pakaian, adat istiadat suatu daerah dsb. Manusia juga mampu
melakukan jual beli (Homo economicus) seperti yang terjadi di pasar manusia
melakukan jual beli terhadap hasil kerjanya. Manusia diberi kelebihan dalam
segala hal dibanding makhluk lain.
Manusia adalah makhluk religius,
yang percaya akan adanya Tuhan yang maha adil. Manusia merupakan mahluk paling
sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah SWT.Kesempurnaan yang dimiliki oleh
manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah
dimuka bumi ini. Al-Quran menerangkan bahwa manusia berasal tanah dengan
mempergunakan bermacam-macam istilah, seperti : Turab, Thien, Shal-shal, dan
Sualalah.
Hal ini dapat diartikan bahwa jasad
manusia diciptakan Allah dari bermacam-macam unsur kimiawi yang terdapat dari
tanah. Adapun tahapan-tahapan dalam proses selanjutnya, Al-Quran tidak
menjelaskan secara rinci. Akan tetapi hampir sebagian besar para ilmuwan
berpendapat membantah bahwa manusia berawal dari sebuah evolusi dari seekor
binatang sejenis kera, konsep-konsep tersebut hanya berkaitan dengan bidang
studi biologi.Anggapan ini tentu sangat keliru sebab teori ini ternyata lebih
dari sekadar konsep biologi.Teori evolusi telah menjadi pondasi sebuah filsafat
yang menyesatkan sebagian besar manusia.Dalam hal ini membuat kita para manusia
kehilangan harkat dan martabat kita yang diciptakan sebagai mahluk yang
sempurna dan paling mulia.
Walaupun manusia berasal dari materi
alam dan dari kehidupan yang terdapat di dalamnya, tetapi manusia berbeda
dengan makhluk lainnya dengan perbedaan yang sangat besar karena adanya karunia
Allah yang diberikan kepadanya yaitu akal dan pemahaman.Itulah sebab dari
adanya penundukkan semua yang ada di alam ini untuk manusia, sebagai rahmat dan
karunia dari Allah SWT.{Allah telah menundukkan bagi kalian apa-apa yang ada di
langit dan di bumi semuanya.}(Q. S. Al-Jatsiyah: 13). {Allah telah menundukkan
bagi kalian matahari dan bulan yang terus menerus beredar.Dia juga telah
menundukkan bagi kalian malam dan siang.}(Q. S. Ibrahim: 33). {Allah telah
menundukkan bahtera bagi kalian agar dapat berlayar di lautan atas
kehendak-Nya.}(Q. S. Ibrahim: 32), dan ayat lainnya yang menjelaskan apa yang
telah Allah karuniakan kepada manusia berupa nikmat akal dan pemahaman serta
derivat (turunan) dari apa-apa yang telah Allah tundukkan bagi manusia itu
sehingga mereka dapat memanfaatkannya sesuai dengan keinginan mereka, dengan
berbagai cara yang mampu mereka lakukan. Kedudukan akal dalam Islam adalah
merupakan suatu kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia dibanding dengan
makhluk-makhluk-Nya yang lain. Dengannya, manusia dapat membuat hal-hal yang
dapat mempermudah urusan mereka di dunia.Namun, segala yang dimiliki manusia
tentu ada keterbatasan-keterbatasan sehingga ada pagar-pagar yang tidak boleh
dilewati.
Manusia dengan rasa keingintahuannya yang besar selalu
berusaha mencari jawaban atas fenomena yang terjadi.Seringkali mereka
menerka-nerka sendiri jawabannya.Terkadang jawaban itu tidak logis, namun mudah
diterima oleh masyarakat awam.Misalnya “mengapa ada pelangi?” kemudian mereka
membuat jawaban bahawasannya pelangi adalah selendang bidadari atau “mengapa
gunung meletus?” jawabannya karena yang berkuasa marah.Dari hal ini timbulnya
pengetahuan tentang bidadari dan sesuatu yang berkuasa.Pengetahuan baru itu
muncul dari kombinasi antara pengalaman dan kepercayaan yang disebut mitos.
Berbagai cara dilakukan untuk memperoleh pengetahuan,
baik melalui pendekatan non-ilmiah (sains semu) ataupun ilmiah. Cara memperoleh
pengetahuan dengan pendekatan sains semu dilakukan dengan mengandalkan
perasaan. Keyakinan tanpa iikuti proses pemikiran yang cermat. Pengetahuan yang
diperoleh bisa jadi benar bisa jadi salah serta tidak efisien karena harus
mencoba tanpa dasar dan kalaupun benar seringkali hanya kebetulan saja.
b. Perkembangan
fisik, sifat dan fikiran manusia
Tubuh manusia berubah mulai sejak
berupa sel sederhana yang selanjutnya secara bertahap menjadi manusia yang
sempurna. Sel sederhana berasal dari sel kromosom sperma yang identik dengan
kromosom sel telur, pada prosesnya akan terjadi kromosom yang tidak homolog
yang akan menjadi laki-laki.
Lima minggu setelah terjadi
konsepsi, bakal jantung mulai berdenyut yang selanjutnya akan membagi menjadi
serambi kiri dan kanan pada minggu ke-9. Sedangkan pada minggu ke-13, janin
sudah mulai berbentuk yang ditandai dengan berfungsinya berbagai organ, yang
selanjutnya pada usia 18 minggu mulai terasa gerakan dari janin.
Pada usia 32 minggu, janin mulai
mempersiapkan diri untuk dilahirkan dengan kepala di bawah makin mendekati
lubang kelahiran. Pada saat ini gerakan semakin berkurang.Perkembangan tercepat
terjadi pada saat setelah kelahiran sampai remaja.
Perubahan fisik yang sangat nyata,
terjadi pada saat pubertas, yang ditandai di antaranya dengan tanda kedewasaan
berupa tumbuhnya rambut pada daerah-daerah tertentu dan fungsi organ-organ
reproduksi (organ genitalia).
Perkembangan pengetahuan pada
manusia sangat dipengaruhi oleh perkembangan pengetahuan semasa anak-anak,
berupa bimbingan yang baik oleh orang tua dan lingkungan yang terus akan
terbawa sampai dewasa.
Sampai usia 2 tahun, perkembangan
kecerdasan sangat cepat, dari belajar, makan, berbicara dan berjalan. Pada usia
2 7 tahun rasa ingin tahu akan makin besar. Masa remaja merupakan masa
pertentangan dengan dirinya maupun dengan orang dewasa, karena selalu berusaha
untuk memposisikan diri sebagai orang dewasa walaupun secara emosional belum
memadai. Selanjutnya, setelah usia 30 tahun, mulai dapat mengendalikan diri dan
mampu menempatkan diri sebagai individu yang bertanggung jawab.
Dari sekian banyak ciri-ciri manusia
sebagai makhluk hidup, akal budi dan kemauan keras itulah yang merupakan sifat
unik manusia.
Rasa ingin tahu, juga merupakan
salah satu ciri khas manusia.Ia mempunyai kemampuan untuk berpikir sehingga
rasa keingintahuannya tidak tetap sepanjang zaman. Karena apa? Karena manusia
akan selalu bertanya apa, bagaimana dan mengapa begitu. Manusia juga mampu
menggunakan pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan
pengetahuan yang baru sehingga menjadi pengetahuan yang lebih baru.
Ada dua macam perkembangan alam
pikiran manusia, yakni perkembangan alam pikiran manusia sejak dilahirkan
sampai akhir hayatnya dan perkembangan alam pikiran manusia, sejak zaman purba
hingga dewasa ini.
Manusia yang mempunyai rasa ingin
tahu terhadap rahasia alam mencoba menjawab dengan menggunakan pengamatan dan
penggunaan pengalaman, tetapi sering upaya itu tidak terjawab secara
memuaskan.Pada manusia kuno untuk memuaskan mereka menjawab sendiri.Misalnya
kenapa ada pelangi mereka membuat jawaban, pelangi adalah selendang bidadari
atau kenapa gunung meletus jawabannya karena yang berkuasa marah.Dari hal ini
timbulnya pengetahuan tentang bidadari dan sesuatu yang berkuasa.Pengetahuan
baru itu muncul dari kombinasi antara pengalaman dan kepercayaan yang disebut
mitos.Cerita-cerita mitos disebut legenda.Mitos dapat diterima karena
keterbatasan penginderaan, penalaran, dan hasrat ingin tahu yang harus
dipenuhi.Sehubungan dengan dengan kemajuan zaman, maka lahirlah ilmu
pengetahuan dan metode ilmiah.
Puncak pemikiran mitos adalah pada
zaman Babilonia yati kira-kira 700-600 SM. Orang Babilonia berpendapat bahwa
alam semesta itu sebagai ruangan setengah bola dengan bumi yang datar sebagai
lantainya dan langit dan bintang-bintang sebagai atapnya. Namun yang
menakjubkan mereka telah mengenal bidang ekleptika sebagai bidang edar matahari
dan menetapkan perhitungan satu tahun yaitu satu kali matahari beredar ketempat
semula, yaitu 365,25 hari. Pengetahuan dan ajaran tentang orang Babilonia
setengahnya merupakan dugaan, imajinasi, kepercayaan atau mitos pengetahuan
semacam ini disebut Pseudo science (sains palsu).
c. Sejarah pengetahuan manusia
Manusia selalu merasa ingin tahu
maka sesuatu yang belum terjawab dikatakan wallahualam, artinya Allah yang
lebih mengetahui atau wallahualam bissawab yang artinya Allah mengetahui
sebenarnya.Perkembangan lebih lanjut dari rasa ingin tahu manusia ialah untuk
memenuhi kebutuhan nonfisik atau kebutuhan alam pikirannya, untuk itu manusia
mereka-reka sendiri jawabannya.
A. Comte menyatakan bahwa ada tiga
tahap sejarah perkembangan manusia, yaitu tahap teologi (tahap metafisika),
tahap filsafat dan tahap positif (tahap ilmu). Mitos termasuk tahap teologi
atau tahap metafisika.Mitologi ialah pengetahuan tentang mitos yang merupakan
kumpulan cerita-cerita mitos.Cerita mitos sendiri ditularkan lewat tari-tarian,
nyanyian, wayang dan lain-lain.
Secara garis besar, mitos dibedakan
atas tiga macam, yaitu mitos sebenarnya, cerita rakyat dan legenda.Mitos timbul
akibat keterbatasan pengetahuan, penalaran dan panca indera manusia serta
keingintahuan manusia yang telah dipenuhi walaupun hanya sementara.
Puncak hasil pemikiran mitos terjadi
pada zaman Babylonia (700-600 SM) yaitu horoskop (ramalan bintang), ekliptika
(bidang edar Matahari) dan bentuk alam semesta yang menyerupai ruangan setengah
bola dengan bumi datar sebagai lantainya sedangkan langit-langit dan bintangnya
merupakan atap.
Tonggak sejarah pengamatan,
pengalaman dan akal sehat manusia ialah Thales (624-546) seorang astronom,
pakar di bidang matematika dan teknik.Ia berpendapat bahwa bintang mengeluarkan
cahaya, bulan hanya memantulkan sinar matahari, dan lain-lain. Setelah itu
muncul tokoh-tokoh perubahan lainnya seperti Anaximander, Anaximenes,
Herakleitos, Pythagoras dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Ilmu
pengetahuan bermula dari rasa ingin tahu. Hewan juga mempunyai rasa ingin tahu
akan tetapi tidak berkembang. Segala aktivitasnya didorong oleh instink itu
dengan tujuan untuk melestarikan hidupnya. Untuk itulah mereka mencari makan,
melindungi diri dan berkembang biak.
Manusia mempunyai rasa ingin tahu
yang berkembang.Akumulasi dari segala yang mereka dapat dari usahanya
mendapatkan jawaban dari keingintahuannya itu merupakan
pengetahuan-nya.Pengetahuan manusia selalu berkembang.Ia selalu tidak puas
dengan fakta tetapi ingin tahu juga tentang apa, bagaimana dan mengapa
demikian.
Berlandaskan pada pengetahuan
tentang beberapa rahasia alam yang diperolehnya, manusia kemudian berusaha
untuk menguasai dan memanfaatkan pengetahuannya untuk memperbaiki kualitas dan
pemenuhan kebutuhan hidupnya.
Saran
Manusia secara alamiah, memiliki
perkembangan sifat dan fikiran yang berbeda-beda. Untuk itulah demi menjaga imu
pengetahuan dalam fikiran manusia maka hendaknya kita sebagai manusia selalu
mengasah kemampuan berfikir kita, mengoptimalkan kemampuan otak dan mencari
ilmu pengetahuan dengan cara yang di ridhai Allah SWT sebagai wujud rasa syukur
kita kepada sang khalik.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an
Ahnadi, A., dan supanto, A. 2018. Ilmu Alamiah Dasar.
Jakarta : PT. Rineka Cipta
Monks, F.J., knoers A.M.P, Haditono, Siti Rahayu. 1982.
Psikologi Perkembangan : Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta : Gajah
Mada University Press
Puspita, Laras Dwi. 2013. Bagaimana Alam Pikiran Manusia
Berkembang (Online).http://larasdwip.blogspot.com/. Diakses pada tanggal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar